Tak Gantikan Tradisi, Tenun ATBM Amdasa Beri Keuntungan Ekonomi
Pada
Thursday, October 31, 2019
Edit

Salah satu anggota dari kelompok tenun itu, Helena Aryesam mengatakan bahwa tenun hasil ATBM hanya bertujuan sebagai sarana untuk mempromosikan tenun ikat asli dari Bumi Duan Lolat dengan beberapa keunggulan, yaitu lebih tipis, ukurannya lebih panjang dan bisa menghasilkan beberapa lembar dalam sekali kerja tanpa menggantikan nilai adat dan tradisi dari tenun hasil alat tenun tradisional yang disebut gedog atau gedogan yang sudah dilestarikan sejak dahulu kala.
“Tenun ikat ATBM ini untuk produksi ke luar dan tenun hasil gedogan tetap nilainya dipakai untuk ritual adat, tetap jalan dan punya nilai sendiri. Tenun ATBM Ini untuk produksi supaya ibu-ibu ada pemasukan, karena permintaan pasar itu beda-beda, banyak orang di luar yang menyukai kualitas tenun ATBM,” papar di bersama Berlinda Angwarmase pada Sabtu (26/10/2019).
Menurut Helena program pelatihan tersebut dapat menumbuhkan lagi rasa bangga dari masyarakat akan tradisi budayanya dan dari bakat menenun yang dimiliki itu dapat meningkatkan kemampuan ekonomi kreatif yang mensejahterakan masyarakat Tanimbar sendiri.
“Inpex buat supaya masyarakat diluar bisa mengerti, ini bentuk yang mudah dari kain tenun dan hanya untuk promosi daerah saja tetapi nilai adatnya tidak ada, yang punya nilai adat itu kain tenun dengan gedogan, itu tidak akan bisa tergantikan,” tegasnya.

Sementara itu, meski masih jauh dari berproduksi namun pelatihan tenun ikat Tanimbar sendiri merupakan sebuah bentuk komitmen yang dilakukan Inpex Masela karena perusahan tersebut menyadari bahwa lisensi sosial atau penerimaan masyarakat adalah suatu hal yang mendasar dan perlu diperhatikan secara serius.
Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial yang dilakukan, tenun ikat Tanimbar telah berhasil diakui secara nasional sebagai pemenang kategori emas untuk program CSR terbaik oleh PR Indonesia Award 2018 dan menjadi salah satu seragam yang digunakan oleh Presiden Republik Indonesia (RI), Ir. H. Joko Widodo dan jajarannya di tahun 2016 hingga 2017. (Laura Sobuber)